Tuesday, September 6, 2022

rubbish. random thought.

Semakin belajar, semakin baca banyak buku, semakin gue merasa harus diam. Ini bukan lagi jadi pribahasa yang 'semakin berisi, padi makin menunduk' yah, karena kayanya ga ada humbleness di pikiran gue, tapi lebih kaya takut salah. Satu hal bisa di lihat dari banyak sudut, banyak arti, dan berbeda arti untuk berbeda orang. Seperti ga ada kebenaran mutlak, kecuali sesuatu yang mainstream di terima orang banyak sebanyak common knowledge. Bahkan kadang apa yang kita lihat sebagai solusi, belum tentu solusi bagi orang lain, atau mungkin emang solusi namun hanya untuk kriteria tertentu atau untuk jangka waktu tertentu.
Makin kesini makin melihat semua dalam riburan shades of colors, bukan hanya mejikuhibiniu. Spectrumnya luas banget! Duh, kenapa isi otak gue complicated gini sih, gimana yah cara membuat dia jadi simple, kayanya semakin simple pemikiran, semakin simple hidup, semakin simple masalah, dan semakin simple juga definisi happiness. Mikirnya rumit kaya orang pinter aja, padahal ga minum tolak angin!

Oh iya, kemarin gue baca, mengejar happiness or blessedness itu adalah sesuatu yang sia-sia, karena difinisi mereka itu ga selalu tentang material. Dan waktu di balikin ke kata Hebrew, ASRE (kebahagiaan),  itu bukan sebuah goal, tapi adalah byproduct dari pengampunan dosa oleh Tuhan, yang hidupnya didasari oleh iman, sesuai dengan tujuan si pencipta atas hidup kita (dalam kerangka berpikir hidup yang takut akan Tuhan). Makanya yang tau kita udah ASRE atau belum yah cuma kita sendiri, karena hanya kita yang tau apa kita sudah ada di full potential itu. Makanya balik lagi ke kenapa kita tidak boleh membandingkan diri dengan orang lain, jalan tiap orang berbeda. Dalam ASRE, bukan berarti ga ada kesusahan dan kesedihan.. ASRE itu sesuatu yang lebih besar daripada kata bahagia' yang  adalah adjective pada suatu timeline.
Setelah baca itu, gue sadar kalo definisi bahagia gue salah. Dulu definisi bahagia gue itu bisa makan apapun yang gue suka, ga pernah stress, dan penuh dengan tawa. tapi waktu gue udah begitu, malah bosen kan... Malah makin berasa ga guna, makin merasa kacau..
Jadi sekarang definisi bahagia nya sedang dalam proses pendefinisian kembali, atau mungkin aja tidak perlu di definisikan, karena kalo dipikir-pikir yah, my life itu bahagia loh. Aku ga perlu berburu babi hutan buat makan ngohiong.. Ga perlu menyembah pejabat yang lewat dan memakai sepatu jerami di era joseon. Ga perlu lap pantat pake daun kalo abis boker. I have everything I need. Tinggal bagaimana definisi ini bukan melulu tentang 'ke-aku-an'. Karena hidup tidak hanya berputar di diri sendiri.